Merisikokan Diri Tertular Virus Corona di Arena Pasar Murah
Kerumanan warga di pasar murah telur, Jalan Hasanuddin, Rabu (25/03/2020)
Kerumanan warga di pasar murah telur, Jalan Hasanuddin, Rabu (25/03/2020)

Papua60detik - Begini ceritanya, setelah informasi kesepakatan di tingkat Provinsi Papua tentang pembatasan akses di bandara dan pelabuhan dalam penanganan virus corona 19 (covid-19) beredar, Selasa (24/03/2020), warga di Timika seperti panik.

Warga beramai-ramai memborong sembako. Bahkan telur yang produksinya melimpah di Timika,  pun seketika harganya naik, di atas wajar.

Staf Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Mimika turun investigasi. Rupanya ada beberapa oknum pedagang yang bermain di kala bencana datang. Caranya, beli di peternak dengan harga normal, lalu timbun.

Mereka, oknum-oknum ini kemudian mengoper ke kios-kios. Karena telur sudah langka, harga dinaikkan sampai dua kali lipat dari harga normal.

Atas perintah pimpinan, Kepala Bidang Usaha Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agustinus Mandang langsung menghubungi para peternak binaan di Himpunan Petani Unggas Kabupaten Mimika (Hipokami).

Untuk menekan harga telur di pasaran, mereka sepakat bikin pasar murah.

Rabu (25/03/2020) sore, di Jalan Hasanuddin, sebelum peternak datang, beberapa warga sudah menunggu. Dua pick up tiba dan pasar murah dimulai.

Desak-desakan warga tak terhindarkan. Anjuran pemerintah pusat hingga daerah mencegah penularan covid-19 dengan physical distancing atau mengatur jarak fisik dan menghindari kerumuanan jadi mentah.

"Ini yang sebenarnya saya takuti juga. Kami WA perorang agar bawa cairan anti septik. Yang kita lihat ini ketersediaan telur ini kurang sama sekali dalam arti harga yang tinggi," kata Agustinus menjawab soal kumpul massa itu.

Niatnya tak diragukan lagi, untuk kepentingan publik. Tapi caranya, bisa bahayakan banyak orang.

Covid-19 diketahui menular dari manusia ke manusia lewat droplet. Maka memutus rantai penularannya, dianjurkan secara tegas menjaga jarak fisik, menghindari kerumunan dan isolasi diri di rumah masing-masing.

Membuat kerumunan warga jelas kontraproduktif dengan upaya mencegah penularan covid-19. Desak-desakan rebutan telur itu jadi sangat berisiko terjadi penularan.

Mencegah terjadinya penularan covid-19 adalah soal pokok. Oknum pedagang yang dengan rasa kemanusiaan dangkalnya menimbun lalu menjual dengan harga tinggi hanya masalah ikutan.

Pemerintah, lewat Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan mesti memikirkan solusi lain menormalkan harga telur dengan tidak membuat warga berkerumun.

Apalagi faktanya, Timika saat ini mampu swasembada telur. Dalam sehari produksinya bisa mencapai 10 ton. Jauh melampaui kebutuhan lokal di Timika. (Burhan)