Pengendalian Covid-19 di Timika Bisa Melambat Sampai Akhir Juni
Papua60detik - Upaya pengendalian penularan covid-19 di Timika bisa dipastikan bakalan melambat jika anjuran pun instruksi dari pemerintah tak benar-benar dipatuhi warga.
Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Mimika sebelumnya memprediksi puncak pandemi akan ada di kisaran April ini. Tapi dengan aktifitas warga yang biasa-biasa saja tampaknya akan memperpanjang masa pengendalian wabah ini.
Jubir Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Mimika, Reynold Ubra mengatakan, jika aktifitas warga Timika masih seperti saat ini, masa pandemi bisa sampai akhir Juni.
Pemkab Mimika sendiri sedang mempersiapkan usulan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ke Kementerian Kesehatan. Usulan PSBB ini bisa jadi tolak ukur bahwa, pembatasan sosial lewat instruksi dan surat edaran bupati tak efektif.
"Sangat disayangkan apabila telah ada persetujuan PSBB tetapi displin untuk tetap di rumah tidak dihiraukan oleh masyarakat. Jika masa PSBB diberlakukan 20 hari tetapi masyarakat tidak displin maka memberikan dampak buruk, diantaranya akhir epidemi akan lebih panjang bisa sampai di akhir Juni," kata Reynold, Selasa (14/04/2020) malam.
Benar, bahwa wargalah yang jadi barisan paling depan dalam perang melawan wabah covid-19. Virus ini menular karena pergerakan manusia. Maka berdiam diri rumah untuk sementara waktu menjadi cara terbaik memutus, setidaknya memperlambat laju penularan covid-19.
Sebaliknya, jika warga masih beraktifitas seperti biasa, maka upaya melawan wabah covid-19 sama halnya menutup satu pintu masuk penularan dan di saat bersamaan membuka pintu lain.
Tapi soalnya memang tak sederhana. Sebagian warga masih harus bekerja di luar rumah agar dapur tetap mengepul. Bagi warga yang mengandalkan penghasilan harian, pilihan bisa jadi sangat sulit.
Di sisi lain, tak ada jaminan warga berstatus PDP, ODP pun OTG yang sedang isolasi mandiri benar-benar bisa berdiam di kamar tak keluar rumah. Upaya pengawasan tentu ada, tapi dengan jumlah hampir 500 yang harus diawasi jadi kesulitan sendiri.
"Dari temuan di lapangan, sejumlah orang yang dinyatakan PDP, ODP dan OTG masih melakukan aktifitas seperti biasa. Tentu saja ini sangat memberi pengaruh bagaimana virus ini menular ke orang lain," ungkap Reynold.
Pemkab Mimika sebenarnya sudah punya solusi dengan menyiapkan shelter, serupa tempat isolasi sementara. Dengan isolasi di shelter, warga berstatus tak perlu keluar karena kebutuhan pangannya dijamin pemerintah.
Tapi dengan jumlah warga berstatus PDP, ODP maupun OTG, daya tampung shelter jauh dari cukup.
"Kapasitas shelter 80 orang, satu kamar kapasitas untuk 4 orang, dan kamar yang siap dihuni sebanyak 28 kamar," sebut Reynold.
Jika masa pandemi ini sampai akhir Juni, kata Reynold, akan banyak kerugian yang harus ditanggung. Pembangunan dipastikan terhambat, recovery ekonomi makin lama, angka kematian akan meningkat, jumlah kapasitas tempat tidur di rumah sakit tidak lagi cukup.
"Waktu puncak bisa saja pada tanggal 28 April mendatang dan bisa turun apabila aktifitas masyarakat tetap di dalam rumah. tidak boleh seperti kondisi sekarang ini," katanya.
Hingga Selasa malam, sebanyak 19 warga dinyatakan positif covid-19. Tiga orang diantaranya telah sembuh dan tiga meninggal dunia.
Jumlah PDP, ODP dan OTG masih bergerak dinamis tergantung hasil tracing contact dan yang dinyatakan sembuh oleh tenaga dokter.
Reynold memprediksi, dalam pekan ini akan ditemukan sembilan kasus positif covid-19 di Timika. Pada 20 April, menurutnya, jumlah kasus positif secara kumulatif antara 28-29 kasus.
"Prediksi ini diperlukan untuk mempersiapkan kebutuhan tenaga, ruangan dan tempat tidur serta bahan penunjang lainnya seperti kebutuhan tes cepat dan media transport (VTM) untuk pemeriksaan konfirmasi di Jayapura," jelasnya. (Burhan)