SATP Mulai Terapkan Pearson Edexcel di Lima Mata Pelajaran
Simulasi kurikulum internasional Pearson Edexcel di SATP. foto: Martha/Papua60detik
Simulasi kurikulum internasional Pearson Edexcel di SATP. foto: Martha/Papua60detik

Papua60detik - Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP), milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro selaku pengelola dana kemitraan PTFI resmi menghadirkan kurikulum internasional Pearson Edexcel di sekolah berpola asrama tersebut.

Kehadiran program pertama di Papua ini untuk memperluas akses siswa terhadap pendidikan berstandar global tanpa meninggalkan jati diri lokal. Program ini akan dilaksanakan secara bertahap yang dimulai dari kelas IV SD dan VII SMP.

Pemilihan kurikulum Pearson Edexcel didasarkan pada karakteristik-karakteristik unggulannya yang sejalan dengan visi SATP. Program ini juga hanya berlaku untuk 5 mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Science, Computing dan Global Citizenship. Mata pelajaran lainnya seperti bahasa Indonesia dan pelajaran agama tetap mengikuti kurikulum nasional.

Ketua Umum Yayasan Pendidikan Lokon saat ini adalah Daniel Korompis, Ph.D, menjelaskan SATP memiliki mandat menjadi sekolah "nasional plus", bukan sekolah internasional, dengan penekanan pada kearifan lokal.  Sama halnya dengan mandat sekolah Lokon di Tomohon. 

Yayasan Pendidikan Lokon membawa kurikulum internasional Pearson Edexcel ke SD dan SMP secara selektif dengan memperkenalkan kurikulum ini bagi 25 persen dari anak kelas 4 dan kelas 7. 

"Kita tidak perlu memilih antara berakar kuat di Papua atau maju ke dunia. Anak-anak kita membutuhkan keduanya. Mereka perlu mengenal tanah, budaya, nilai, dan masyarakatnya. Pada saat yang sama, mereka juga perlu dibekali kunci untuk membuka pintu dunia tersebut," ujar Daniel, Rabu (29/07/2026). 

Adapun keunggulan dari kurikulum ini adalah menekankan asesmen formatif yang berkelanjutan, penekanan pada berpikir kritis dan penerapannya, mencerminkan pendekatan modern yang sejalan dengan cara peserta didik yaitu belajar, mengkaji, dan pada akhirnya bekerja. 

"Saya ingin menegaskan kembali bahwa internasionalisasi bukan berarti mengganti jati diri. Melainkan anak-anak mampu memahami masalah, menemukan solusi, memimpin dengan karakter, dan bermanfaat," ucapnya. 

Sementara itu, Kepala SATP, Sonianto Kuddi mangatakan, kurikulum SATP adalah kurikulum berbasis kehidupan kontekstual Papua. Melalui kurikulum merdeka memberikan landasan yang kuat bagi  murid dalam membangun identitas mereka. 

"Di sisi lain, Person Edoxcel ini memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk meraih kesuksekan di tingkat internasional," katanya. 

Vice President Community Relations PT Freeport Indonesia, Engel Enoch, mengapresiasi perkembangan Sekolah Asrama Taruna Papua yang telah berlangsung lebih dari satu dekade.

Menurut Engel, berbagai prestasi yang berhasil diraih peserta didik hingga kesempatan mengikuti berbagai ajang bergengsi merupakan buah dari kerja keras, komitmen, serta kolaborasi seluruh pihak yang terlibat dalam pengembangan sekolah.

Ia menegaskan, PTFI berkomitmen memberikan kontribusi nyata bagi masa depan generasi Papua melalui peningkatan kualitas pendidikan. 

"Kita ingin anak-anak ini mampu berpikir global dan bertidak global. Kita ingin mereka berbicara juga untuk orang lain bukan hanya bagi mereka sendiri. Ketika mereka ada di sini, kita berharap mereka punya masa depan yang lebih baik dan suatu saat bisa menjadi seorang pemimpin," harapnya. (Martha)