Stigma Hanya Memperburuk Keadaan Dalam Perang Melawan Covid-19
Simulasi tata laksana penanganan pasien covid-19 di Mimika
Simulasi tata laksana penanganan pasien covid-19 di Mimika

Papua60detik - Stigma atau cap negatif bisa jadi batu sandungan dalam pengendalian penularan virus corona (vovid-19) di Kabupaten Mimika. Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Pengendalian Covid-19 Mimika, Reynold Ubra mengajak warga menghentikan stigma dan diskriminasi agar fenomena gunung es penularan covid-19 bisa dibongkar.

"Kalau kita sayang masyarakat di Mimika, saya mewakili pemerintah dan Tim Gugus Tugas mari kita hentikan stigma dan diskriminasi supaya mereka yang tanpa gejala ini secara sadar melapor dan kami bisa menangani ini dengan baik. Berikan kami kesempatan untuk mengerjakan ini," kata Reynold pada teleconference, Kamis (02/04/2020) malam.

Stigma dalam upaya pengendalian penyakit menular sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum covid-19 mewabah, stigma dan diskriminasi sudah dialami pengidap TB dan HIV-AIDS. Banyak jiwa yang bisa diselamatkan andai tidak ada stigma ke mereka.

Hal sama terulang lagi pada perang melawan penularan covid-19 yang telah jadi pandemi global saat ini.

Rabu, (01/04/2020) kemarin, sekelompok massa mendatangi wisma atlet di Timika. Mereka menolak gedung lantai tiga itu dijadikan shelter (tempat isolasi sementara) bagi warga yang bersatus PDP, ODP dan OTG covid-19.

Padahal, menyiapkan sebuah shelter adalah langkah tepat meredam senyapnya penularan covid-19. Isolasi mandiri pun, kata Reynold hanya bisa berjalan baik jika tidak ada stigma dan diskriminasi dari lingkungan sekitar.

"Dengan adanya stigma dan diskriminasi maka pengendalian penyebaran covid-19 tidak akan pernah selesai di Kabupaten Mimika. Kalau shelter ini saja di stigma, bagaimana kita bisa menghentikan ini," kata Reynold.

"Saya pikir dengan publikasi massif, masyarakat Mimika bisa memahami secara mendasar bahwa sebenarnya covid-19 itu penularannya bisa dikendalikan dan tak perlu takut pada orang yang merawat atau mendampingi pasien maupun warga yang berstatus ODP dan OTG," tambahnya.

Cap negatif atau stigma dalam banyak kasus mencuat karena misinformasi. Meyakini sesuatu yang tak berbasis pada ilmu pengetahuan dan penelitian ilmiah.

Stigma jelas hanya memperburuk keadaan. Warga akhirnya enggan lapor diri karena takut mendapat stigma. Akibatnya, upaya pengendalian penularan covid-19 makin sulit.

Alih-alih stigma dan diskriminasi, yang dibutuhkan dalam perang melawan covid-19 adalah saling dukung dan menguatkan.

Pasien atau warga yang diduga terinfeksi covid-19 mestinya didukung agar lekas sehat. Warga yang punya riwayat kontak dengan pasien postif namun tanpa gejala akan nyaman melaporkan diri ke Fasyankes  jika tak mengalami stigma dan diskriminasi.

Tenaga kesehatan yang jadi benteng pertahanan terakhir juga harus disupport agar tak jebol. Caranya, mengikuti anjuran tetap di rumah dan keluar kecuali untuk urusan darurat.

"Hari ini gugus terdepan bukan tenaga kesehatan gugus terdepan adalah masing masing orang, masing masing keluarga. Setiap warga punya hak segat tapi juga bertanggung jawab untuk tidak terinfeksi virus corona ini," katanya. (Burhan)