Kenapa Vaksinasi Tetanus Penting?

dr Yos Bungalangan
dr Yos Bungalangan


Kenapa Vaksin Tetanus Penting?

Berdasarkan buku neurology and neurosurgery illustrated, tetanus adalah penyakit sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi singkat. 

Tetanus merupakan penyakit yang cukup langka, Namun, angka kejadiannya di negara-negara berkembang masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan kurang tersedianya program vaksinasi di negara-negara tersebut. 

Insiden penyakit ini cukup banyak terjadi pada bayi baru lahir dan ibu yang tidak pernah mendapatkan vaksinasi sebelumnya. Namun, angka kejadian pada orang-orang berusia lanjut pun relatif tinggi.

Tetanus disebabkan oleh bakteri Clostridium Tetani, bakteri gram positif, anaerob, yang tahan terhadap panas dan sinar matahari yang hidup di benda berkarat dan di tanah. 

Bakteri ini masuk melalui luka terbuka, luka karena benda berkarat, luka bakar maupun luka karena gigitan hewan. Setelah menginfeksi luka bakteri ini akan mengeluarkan neurotoksin yang disebut tetanospasmin. 

Tetanospasmin ini akan merusak jaringan sekitar luka dan menyebabkan otot-otot menjadi kaku, kejang hingga kematian. Karena itu sangat disarankan untuk dilakukan perawatan luka oleh tenaga medis agar luka benar-benar bersih. Waktu yang dibutuhkan dari masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala awal berupa kekakuan otot bervariasi antara 1-60 hari dan dari munculnya gejala sampai terjadinya kejang antara 1-7 hari.

Gejala tetanus bervariasi dari kekakuan otot disekitar infeksi, kekakuan otot-otot wajah, kekakuan anggota gerak dan batang tubuh, kesulitan menelan, demam sampai kejang hebat. Kekakuan hampir selalu terjadi pada otot leher dan rahang yang mengakibatkan kesulitan membuka mulut. 

Ada 4 macam tetanus :

1. Tetanus lokal

Infeksi jenis lokal cukup jarang terjadi. Tanda-tanda dan gejala yang muncul biasanya berupa kejang otot dan kekakuan disertai rasa sakit pada otot disekitar luka. Tingkat keparahannya pada masing-masing penderita umumnya bervariasi. Selain itu, kesempatan untuk bertahan hidup dari infeksi jenis lokal relatif besar.Tetanus lokal dapat berkembang menjadi tetanus umum.

2. Tetanus sefalik 

Tetanus jenis ini merupakan yang paling jarang ditemukan. Masa inkubasi dari jenis sefalik relatif singkat, yaitu hanya memakan waktu sekitar 1-2 hari. Bentuk tetanus lokal yang mengenai wajah yang disebabkan oleh luka pada daerah kepala atau infeksi telinga kronis. Gejalanya berupa kesulitan membuka mulut, kesulitan menelan, dan kekakuan otot wajah yang membuat wajah seperti menyeringai.

3. Tetanus umum/generalisata

Jenis ini adalah termasuk yang paling umum terjadi, dengan angka kejadian sekitar 85-90 persen dari seluruh kasus infeksi C. tetani yang ada. Baik luka kecil maupun luka berat dapat memicu terjadinya penyakit ini. Periode inkubasi atau waktu yang dibutuhkan untuk munculnya gejala-gejala tergantung pada seberapa jauh lokasi luka dengan sistem saraf pusat. 

Gejala yang paling umum terlihat pada jenis ini adalah rasa kaku pada rahang (lockjaw). Sekitar 75 persen penderita merasakan gejala tersebut.Gejala klinis dapat berupa berupa kesulitan membuka mulut, kekakuan leher, susah menelan, kekakuan dada dan perut, rasa sakit dan kecemasan yang hebat serta kejang umum yang dapat terjadi dengan rangsangan ringan seperti sinar, suara dan sentuhan dengan kesadaran yang tetap baik.

4. Tetanus neonatorum 

Jenis ini merupakan bagian dari tetanus umum. Infeksi neonatal lebih banyak terjadi di negara-negara berkembang dan menyebabkan hampir setengah dari seluruh kasus kematian bayi baru lahir. Penyebab utamanya adalah proses bersalin yang kurang bersih, serta terlahir dari ibu yang belum pernah menerima imunisasi. 

Kemungkinan penyakit ini berujung pada kematian cukup besar, yaitu sekitar 70 persen. Tetanus yang terjadi pada bayi baru lahir, disebabkan adanya infeksi tali pusat, Gejala yang sering timbul adalah ketidakmampuan untuk menetek, kelemahan, rewel, diikuti oleh kekakuan otot.

Untuk mendiagnosis tetanus, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang dialami oleh pasien. Selanjutnya dokter akan melakukan pemriksaan fisik, khususnya pada otot dan sistem saraf pasien. 

Penderita tetanus tidak dibutuhkan pemeriksaan laboratorium, namun, ketika pasien terdapat luka yang diduga terdapat infeksi tetanus, dapat dilakukan pemeriksaan penyebab tetanus dari bakteri di laboratorium untuk menemukan keberadaan bakteri.

Pengobatan tetanus yang utama meliputi:

-Penanganan luka. Pada umumnya terjadi berupa luka tertusuk benda tajam. Sehingga perlu dilakukan perluasan luka dengan cross incisi kemudian luka dibersihkan menggunakan antiseptik bahkan jika perlu akan dilakukan pembersihan luka di ruang operasi.

-Pemberian antitoksin tetanus. Pemberian ATS atau anti tetanus serum dan HTIG atau Human Tetanoimunoglobulin untuk menetralkan neurotoksin clostridium tetani.


-Pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik metronidazol atau penicilin melalui pembuluh darah untuk membunuh bakteri penyebab tetanus.


-Antikonvulsan. 

Pemberian obat obat yang dapat mencegah atau mengurangi kejang (konvulsan) juga bisa dilakukan, seperti diazepam.

Pada beberapa kasus berat pasien dirawat dalam suatu ruangan intensif dengan pengawasan yang ketat untuk menjauhkan pasien dari rangsangan yang dapat memicu timbulnya kejang pada pasien dengan tetanus.

Untuk mencegah terjadinya tetanus adalah dengan melakukan vaksinasi tetanus sebanyak 3 kali  pada anak sebelum usia 1 tahun. Vaksin tetanus diberikan bersama dengan vaksin difteri dan pertusis (vaksin DPT). 

Untuk mencegah tetanus pada bayi baru lahir dilakukan vaksin tetanus saat sebelum menikah dan saat hamil. Perawatan luka juga penting untuk mencegah tetanus. Jika anda belum pernah menerima vaksin tetanus dan luka anda cukup dalam dan kotor, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.


dr Yos Bungalangan

Bekerja di Puskesmas Timika




Bagikan :