Penerbangan Perintis & Solusi Pemerataan Pembangunan di Papua Tengah
Penerbangan Perintis menjadi upaya pemerintah menghadapi tantangan disparitas harga, dan kesenjangan sosial di berbagai wilayah dalam mencapai pemerataan pembangunan. Foto: Dokumentasi pribadi
Penerbangan Perintis menjadi upaya pemerintah menghadapi tantangan disparitas harga, dan kesenjangan sosial di berbagai wilayah dalam mencapai pemerataan pembangunan. Foto: Dokumentasi pribadi


Oleh: Bella Sinta Dewi

Pernah mendengar harga bahan pokok di suatu daerah berbeda dengan kota besarnya padahal masih 1 provinsi? Atau pernah mendengar seseorang tidak dapat tertolong karena terbatasnya alat medis di suatu daerah dan dibutuhkan moda transportasi yang lebih cepat untuk menjangkau kota besar dengan fasilitas medis yang lebih lengkap?

Moda transportasi udara menjadi solusi di wilayah Papua khususnya Papua Tengah yang memiliki karakteristik geografis beragam mencakup wilayah pegunungan maupun pesisir. Karakteristik yang beragam inilah, menjadi tantangan utama dalam menghadirkan konektivitas untuk menghubungkan Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Daerah setiap tahunnya turut melaksanakan program penerbangan subsidi angkutan udara perintis sebagai upaya membuka akses keterisolasian. Penerbangan subsidi angkutan udara perintis atau yang dikenal sebagai penerbangan perintis merupakan program layanan penerbangan terkhusus di wilayah 3TP (Tertinggal, Terdepan, Terluar, dan Perbatasan) dengan harga tiket yang terjangkau, untuk tujuan membuka keterisolasian, mengurangi harga barang di suatu wilayah yang terdampak perbedaan karena jarak tempuh, mendukung kemudahan akses kesehatan, hingga pemerataan ekonomi. 

Apa bedanya penerbangan perintis dengan penerbangan komersil? Kita mungkin familiar dengan beberapa operator transportasi udara yang lalu lalang di wilayah Papua Tengah, selain maskapai besar dengan pesawat berjenis boeing ataupun airbus yang menghubungkan Papua Tengah dengan provinsi lainnya di Indonesia terdapat juga maskapai seperti Susi Air, Asian One Air, Smart Air, dkk-nya dengan pesawat berjenis cessna caravan atau sejenisnya yang menjadi penghubung wilayah 3TP (bandara pengumpan) dengan kota besar (bandara utama). Di Kabupaten Mimika sendiri, Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah memberikan subsidi penerbangan perintis setidaknya 13 rute angkutan udara perintis yang dilayani di tahun 2026. Meliputi rute Timika dengan tujuan Beoga, Akimuga, Potowaiburu, Bilogai, Ilaga, Kepi, Kenyam, Sinak, Waghete, Moanamani, Enarotali, Mulia, dan Kokonao. Sebagai contoh, harga tiket subsidi penerbangan perintis dari Kokonao menuju Timika berkisar Rp. 293.620 dengan jarak tempuh sekitar 15 menit. Hal ini juga sangat berpengaruh terhadap kecepatan akses kesehatan masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Transportasi menjadi faktor utama dalam menentukan pemerataan pembangunan di suatu wilayah. Uniknya letak geografis berbagai daerah di Indonesia menjadi alasan pemerintah untuk membuka akses konektivitas antarwilayah. Adanya moda transportasi udara membantu kita dalam menjangkau setiap daerah yang ada. Penerbangan perintis menjadi bukti nyata pemerintah untuk menghadirkan konektivitas dalam menghubungkan Indonesia tidak terkecuali di wilayah 3TP dan Papua.

Jika penerbangan perintis berperan penting dalam membuka keterisolasian suatu wilayah, dan meratakan pembangunan. Semoga dengan adanya penerbangan perintis, dapat terus berjalan setiap tahunnya dan memberi manfaat kepada seluruh masyarakat khususnya wilayah Papua Tengah. Diharapkan juga pemerintah dapat membuka rute yang lebih luas lagi dengan intensitas penerbangan yang lebih banyak dari sebelumnya. Serta diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap perbedaan harga pokok suatu barang di wilayah terpencil dengan kota besarnya.


*Bella Sinta Dewi adalah Petugas Bandara Kokonao dan Mahasiswa Administrasi Publik.