Diyakini Tingkatkan Derajat Ekonomi Nelayan, Ekspor Karaka Mimika Terkendala Rute Penerbangan
Papua60detik - Karaka atau kepiting merupakan salah satu kekayaan Mimika yang kini sudah sampai ke negara tetangga. Hasil laut Mimika ini sudah masuk pasar Malaysia dan Singapura.
Hasil nelayan dari warga Suku Kamoro ini diekspor oleh Usaha Dagang (UD) Putri Desi. Sayang, sejak pandemi covid-19 melanda dunia, ekspor kepiting dari Timika juga mulai tersendat.
Di tahun 2021 ini saja, UD Putri Desi yang dikelola Hartaty Anamofa baru lima kali ekspor. Hal ini terjadi bukan karena tidak ada permintaan dari pembeli tetapi karena rute penerbangan Timika yang tak lagi seperti dulu.
Penerbangan langsung Timika-Denpasar kini tak lagi ada, padahal sebelum pandemi rute inilah yang selalu dijadikan rute ekspor Karaka oleh para eksportir.
Taty sapaan Hartaty menjelaskan sejak rute tersebut tak ada, mereka terpaksa melakukan ekspor melalui Makassar namun itu memakan waktu yang lama yakni 36 jam. Dan lamanya waktu pengiriman berpengaruh pada kualitas kepiting.
“Kepiting wajar kalau tiba 12 jam. Tapi kalau sudah sampai 36 jam itu tidak wajar. Kalau kondisi seperti itu kita agak sulit untuk bisa ekspor. Kecuali dalam keadaan terpaksa. Dalam arti permintaan Singapura suruh kirim saja baru kita kirim. Tapi kalau tidak kita tidak berani,” jelasnya saat ditemui di instalasi kepiting miliknya, Minggu (21/11/2021).
Padahal ekspor kepiting mampu mendongkrak ekonomi nelayan. Dengan harga jual tinggi di negara lain, harga pengambilan dari nelayan pun juga tinggi. Di Singapura 1 kg Rp280 ribu, dan Malaysia Rp210 sampai 220 ribu.
Di UD Putri Desi pembelian dari para nelayan berdasarkan berat per ekor.
“Kita transparan dan mereka tidak merasa ditipu. Kalau yang kita lihat biasanya orang tumpuk baru kasih duit. Tidak timbang dan kasih harga. Tapi kalau kami, kami mau mengajari supay nelayan kami itu pintar. Jadi kita kasih nota. Ini biar merka tahu. Dan rata-rata senang,” jelasnya.
Itu baru ke Malaysia dan Singapura. Menurut Taty, pasar paling besar dengan harga jual lebih tinggi produk kepiting sebenarnya adalah China. Sayang sampai sekarang UD Putri Desi belum punya izin mengekspor ke China. Belum lagi soal rute penerbangan.
“Ekspor ke Cina lebih menguntungkan karena Cina itu negara besar. Dan juga mereka itu butuhnya kepiting Timika. Kepiting ukuran 300-400 gram dan 500 gram. Jadi tepat sasarannya masuk ke Cina,” pungkasnya. (Anti Patabang)