Film Maira Whisper From Papua & Perjuangan Masyarakat Adat Jaga Hutan Papua
Film Maira Whisper From Papua tayang di XXI Timika. Foto: Martha/ Papua60detik
Film Maira Whisper From Papua tayang di XXI Timika. Foto: Martha/ Papua60detik

Papua60detik - Timika menjadi salah satu titik penting dalam rangkaian Road to 5 Februari film Maira Whisper From Papua. Kehadiran tim film ini di Papua bukan sekadar agenda promosi, melainkan bentuk penghormatan terhadap tanah dan masyarakat adat yang menjadi tokoh utama film tersebut.

Sutradara film Maira Whisper From Papua, Anggi Friska, mengungkapkan bahwa film ini lahir dari proses panjang, memakan waktu lebih 2,5 tahun. Mulai pencarian ide cerita, casting, penentuan lokasi, hingga tahap syuting secara khusus melibatkan masyarakat lokal Papua. 

"Karena kami bikin film di Papua, kami juga ingin menyebarkan ini di Papua duluan sebagai penghormatan bahwa Papua bukan cuma sekedar objek, tapi dia adalah subjek yang ingin bersuara lebih besar lagi," kata Friska saat diwawancarai di Timika, Jumat (16/01/2026). 

Melalui film ini, Anggi berharap pesan yang diangkat dapat menginspirasi masyarakat Indonesia secara luas. Ia mengaku banyak belajar dari masyarakat adat Papua, terutama tentang kekuatan seni dan cara mereka menjaga hubungan dengan alam. 

"Harapanku sebetulnya bagaimana terkoneksinya kembali hubungan manusia dengan alam. Itu hadir bukan cuma dari masyarakat adat, tetapi dari kita-kita yang juga tinggal di kota. Kita juga punya kekuatan untuk terus menjaga hutan dan terus menarasikan apa yang mungkin masyarakat adat perjuangkan," harapnya. 


Setelah film ini tayang, respons penonton pun beragam. Priskila, salah satu anak muda menilai film ini memberikan pelajaran penting tentang menjaga alam. Meski telah lama tinggal di Papua, ia mengaku belum benar-benar mengenal keindahan alam pedalaman Papua yang ditampilkan dalam film.

Menurutnya, adegan yang paling menyentuh adalah ketika Maira menyaksikan mesin milik perusahaan menumbangkan pohon-pohon besar hingga merobohkan pohon kecil di sekitarnya. Ia pun menangis. Tangisan Maira menggambarkan ketakutan akan masa depan ketika hutan benar-benar habis. 

"Sekarang banyak sekali hutan yang sudah ditebang. Film tadi menggambarkan apa yang saat ini dialami Papua. Hutan itu adalah rumah mereka yang tinggal di sana, titipan leluhur. Sehingga sangat penting menjaganya termasuk kita yang tinggal di kota," ungkapnya. 

Pendapat serupa disampaikan oleh Nancy Natalia Raweyai. Sebagai wakil rakyat, ia menekankan bahwa menjaga hutan dan lingkungan semakin penting di tengah fenomena bencana alam yang semakin sering terjadi. Ia juga mengungkapkan rencana ketika nanti film ini sudah tayang akan mengajak anak-anak Papua menonton bersama-sama. 

"Nanti kunjungan kerja berikutnya saya berencana untuk bawa anak-anak Papua nobar di sini, mereka mungkin lebih membutuhkan. Supaya anak-anak itu punya rasa memiliki terhadap hutan di Papua. Nanti kita atur teknisnya dan transportasinya," pungkasnya. (Martha)