Lapak Baca di Nabire Jadi Ruang Alternatif Rakyat Papua Bangun Kesadaran Politik
Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota sedang berlangsung di karang mulia Nabire. Foto : Elia Douw/ Papua60detik
Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota sedang berlangsung di karang mulia Nabire. Foto : Elia Douw/ Papua60detik

Papua60detik - Kolektif Lapak Baca dan Diskusi Kota kembali menggelar lapak dan diskusi di Karang Mulia, Nabire, Papua Tengah, Minggu (18/1/2026).

Kegiatan ini menjadi ruang belajar kolektif bagi kaum muda Papua untuk membaca realitas sosial dan melahirkan kesadaran kritis terhadap situasi di tanah Papua.

Dari hasil notulensi diskusi, Marpin Kegou menyimpulkan Papua kini berada di bawah ancaman berlapis: militerisme organik dan non-organik, perusahaan-perusahaan ilegal yang beroperasi di bawah bendera investasi kapitalisme, serta campur tangan negara asing melalui imperialisme ekonomi.

“Jika kita tidak membaca buku, tidak berdiskusi, dan tidak melakukan pembacaan situasi terhadap rakyat Papua sendiri, maka alternatif pembebasan tidak akan pernah muncul. Mari kita belajar bersama dan bergerak bersama sebab hal yang tidak diketahui tidak akan pernah menyelamatkan siapapun,” ujar Marpin

Sementara itu, Nori menyoroti krisis pendidikan dan literasi kritis di Papua, yang menurutnya telah direduksi menjadi alat penjinakan sosial.

Katanya, sekolah seharusnya memproduksi literasi sipil, yang mengajar murid-murid bagaimana menjadi agen-agen kritis, yang memandang pengetahuan sebagai fondasi bagi perkembangan pribadi dan sosial. Tapi kini gagasan demikian dianggap berbahaya dan subversif. 

"Filsafat sejati tidak berhenti pada pemahaman, tetapi pada perubahan. Filsafat bukan sekadar memahami dunia, tapi juga mengubahnya. Dari Marxisme hingga Eksistensialisme, berbagai aliran menyoroti pentingnya kebebasan, kesetaraan dan keadilan. Berani berpikir berarti berani melawan,” tegasnya.

Lapak Baca dan Diskusi Nabire menjadi ruang alternatif bagi rakyat dan mahasiswa Papua untuk membangun kesadaran politik, sosial, dan ekologis. Melalui membaca dan berdialog, mereka meneguhkan keyakinan bahwa pembebasan hanya mungkin lahir dari pengetahuan, solidaritas, dan tindakan bersama. (Elia Douw)