Ngobrol Bareng Gen Z Soal Pernikahan Dini
Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan

Papua60detik - Pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh mereka yang masih berusia muda Patut diperhatikan bahwa batas usia minimal seseorang boleh menikah berdasarkan Pasal 7 ayat (1) UU 16/2019 adalah di usia 19 tahun.

Namun Pasal 2 UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Kemudian, setiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Tapi soalnya, pernikahan dini diyakini dapat berdampak signifikan pada kehidupan seseorang, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Pernikahan dini seringkali dianggap sebagai masalah sosial karena membatasi kesempatan pendidikan, meningkatkan risiko kesehatan, dan mengurangi kesempatan ekonomi bagi individu yang menikah dini. 

Oleh karena itu, banyak organisasi dan pemerintah yang berusaha untuk mencegah pernikahan dini dan meningkatkan kesadaran tentang dampaknya.

Lalu, seperti apa pendapat Gen Z di Timika terkait dengan pernikahan dini? 

Zefania Brenda Ambeta berpendapat bahwa zaman sekarang tidak harus tergesa melakukan pernikahan, apalagi pernikahan di usia yang belum matang atau pernikahan dini. 

"Karena dalam masa remaja itu waktunya untuk kita kenal diri kita sendiri, kita bangun identitas, sama kembangkan emosi. Karea kalau kita nikah terlalu cepat bisa jadi kita belum siap secara mental, emosional dan finansial kita dan itu bisa menjadi hubungan kita tidak sehat dan penuh konflik," ujar dia, Senin (14/4/2025). 

Dampak dari pernikahan dini kata dia, bisa memicu stres karena tekanan mental yang bisa membuat depresi karena memikul tanggung jawab yang datang terlalu cepat. 

Selain itu membuat perkembangan diri atau karir bisa terhambat. Hubungan suami istri juga bisa rentan konflik karena keduanya masih harus sama-sama belajar kelola emosi. 

"Penyebab orang nikah dini banyak faktor, ada tekanan dari keluarga, atau budaya, kondisi ekonomi atau mungkin kehamilan di luar nikah bahkan kurangnya edukasi tentang pernikahan. Kadang juga mereka merasa sudah jatuh cinta dan merasa sudah jodohnya jadi ingin cepat menikah dan hidup bersama padahal mereka belum sepenuhnya paham tentang tanggung jawab," ungkapnya. 

Untuk mencegah pernikahan dini, yang paling penting adalah edukasi. Anak dan remaja perlu diberi pengetahuan tentang pentingnya kesiapan mental dalam pernikahan, bukan karena terpaksa.

"Edukasi bukan hanya untuk anak muda atau remaja tapi orang tuanya juga," jelasnya. 

Kristin Kareth berpendapat bahwa untuk menikah harus siap sebaik mungkin. Banyak pertimbangan dari segi ekonomi maupun mental. Semuanya harus benar-benar siap untuk ke jenjang lebih serius. Suatu saat jika terjadi bentrok dengan pasangan, bisa menguasai diri.

"Harus punya mental yang siap, pernikahan dijalani dengan komitmen, karena hanya untuk senang-senang tidak semenyenangkan yang dilihat," ujar Kristin. 

Menurutnya, penyebab nikah dini bisa dari keluarga atau tradisi atau memang atas dasar suka sama suka. Bisa jadi juga, pernikahan dini dilakukan untuk menutupi aib karena hamil duluan

"Zaman sekarang, pergaulannya semakin bebas, banyak negatif. Mak perlu beri edukasi kepada anak muda untuk tidak bergaul bebas atau yang menyebabkan kecelakaan di kemudian hari," tegasnya. 

"Saya sendiri telah melakukan kesalahan itu, mungkin anak muda di luar sana kalau mau melakukan hal seperti yang mengambil jalan pintas. Kalian tidak perlu ambil itu karena pernikahan itu harus punya mental yang matang. Dan apabila gagal maka akan ada kekecewaan dari keluarga," ungkapnya. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Marlisa Andayan Betula. Pernikahan dini menurutnya dapat merugikan dalam beberapa aspek seperti ekonomi, kesehatan, mental dan fisik. Menikah di bawah umur rentan terhadap persoalan kesehatan reproduksi dan kemiskinan.

"Belum matangnya usia sang ibu mendatangkan konsekuensi kepada sang anak pada risiko kematian bayi, bayi lahir prematur, kurang gizi dan berisiko pada pertumbuhan dan stunting," katanya. 

Dia bilang biasanya pernikahan dini karena faktor ekonomi, dari adat, minimnya pendidikan bahkan tidakmenutup kemungkinan bisa datang dari kalangan keluarga. 

"Cegah pernikahan dini dengan berikan akses pendidikan, beri kesempatan pada anak sehingga dapat menyelesaikan pendidikan minimal SMA sebelum menikah. Serta edukasi tentang pernikahan," pungkasnya. (Eka)