Nobar Pesta Babi di Timika, Perampasan Tanah Adat & Perlawanannya
Papua60detik - Puluhan warga dari berbagai komunitas di Timika mengikuti diskusi dan nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi yang digelar di Aula Bobaigo, Kompleks Pastoral Keuskupan Timika, Senin (30/3/2026).
Acara Nobar ini diselenggarakan oleh Keuskupan Mimika, Puan Give Exchange Community, dan Greenpeace sebagai ruang refleksi sekaligus dialog atas situasi yang terjadi di Papua.
Film Pesta Babi disutradarai Dandhy Laksono dan diproduseri Victor Mambor. Selama pemutaran, penonton tampak larut dalam alur cerita yang kuat dan emosional, terutama saat film menampilkan realitas kehidupan masyarakat adat yang menghadapi tekanan dari berbagai proyek Nasional.
Dokumenter ini mengungkap praktik kolonialisme modern di Papua Selatan, di mana hutan adat dirampas atas nama proyek pangan dan transisi energi. Berbagai pihak yang tergabung dalam pembuatan film ini, menyoroti penderitaan masyarakat adat yang hidup di bawah bayang-bayang operasi militer, sekaligus menyuarakan tuntutan keadilan atas perampasan tanah leluhur mereka.
Selama ini, masyarakat adat di Papua Selatan terus berjuang mempertahankan ruang hidupnya. Kekhawatiran semakin meningkat seiring rencana pembukaan lahan besar-besaran di Papua Barat untuk berbagai kepentingan proyek strategis.
Salah satunya adalah program agribisnis pemerintah yang mencakup sekitar 2,5 juta hektar lahan untuk produksi padi, tebu, bioetanol, hingga biodiesel berbasis sawit. Apabila proyek ini dijalankan terus-menerus, alam papua akan berubah drastis.
Ironisnya, lebih dari 60 tahun eksploitasi sumber daya alam di Papua belum memberikan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Sebaliknya, keuntungan justru lebih banyak dinikmati oleh para elit. Sementara ruang hidup masyarakat semakin sempit oleh penguasaan perusahaan. Penguatan militerisasi di sejumlah wilayah juga membuat warga memilih mengungsi.
Film ini menjadi pengingat bahwa Perampasan Hak Manusia itu nyata dan sedang terjadi di Papua. Suara perlawanan masyarakat adat kerap tenggelam oleh gaung proyek ketahanan pangan dan proyek agribisnis. Pemerintah malah tidak berpihak kepada masyarakat dan seolah-olah menganggap bahwa Papua adalah tanah kosong.
Yang menarik dan menjadi sorotan utama lainnya adalah tradisi pesta babi. Sebuah acara sakral dan cara masyarakat menjaga alamnya. Pesta babi ini harus menunggu 10 tahun. Babi dibiarkan berkembang biak secara alami di hutan sebelum diburu secara tradisional.
Salah satu cara memastikan babi itu tetap hidup adalah dengan cara menjaga kelestarian hutan dan alam tempat babi mencari makan.
Usai pemutaran film, penonton kemudian diajak berdiskusi. Narasumbernya Pastor Benyamin dari Keuskupan Timika dan Fransiska Rosari You dari Greenpeace. (Martha)