Aksi Cepat Dinkes Mimika Tangani KLB Polio
Papua60detik - Sejak 21 Mei 2024, kasus polio di Kabupaten Mimika ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Kasus pertama ditemukan pada anak usia sekitar 9 tahun. Sebanyak 42 anak kemudian diambil sampel tinjanya untuk diperiksa di Laboratorium Patologi di Surabaya. Hasilnya, delapan anak dinyatakan terpapar virus polio.
Untuk mencegah penyebaran penyakit ini, Dinkes menargetkan pemberian imunisasi polio tambahan (PIN) kepada 55.570 anak. Hingga 27 Mei, sebanyak 8.338 anak usia 0 sampai 7 tahun telah mendapatkan imunisasi polio.
Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra mengatakan, penyakit polio menyebabkan kelumpuhan mendadak, ciri-cirinya anak panas, anak demam, dan badan bagian bawah (kaki) tidak mampu berdiri.
Data Dinkes menunjukkan daerah yang mempunyai risiko tinggi penyebaran kasus Polio adalah daerah pesisir pantai dan pegunungan karena cakupan imunisasinya masih rendah.
“Kami menargetkan tercapainya imunisasi polio 100 persen di wilayah pesisir dan pegunungan pada Juli 2024,” kata Raynold, Jumat (31/5/2014)
Reynold menjelaskan, virus ini menular melalui saluran pencernaan. Salah satu faktor yang menyebabkan virus ini menyebar adalah perilaku buang air besar sembarangan.
“Jadi ada faktor lingkungan karena kami juga melakukan penelitian terhadap lingkungan sekitar, sejauh ini belum keluar hasilnya, tapi berdasarkan informasi yang dihimpun, perilaku buang air besar sembarangan sangat kuat,” katanya.
Data menyebutkan delapan yang positif polio yang ditemukan merupakan anak sehat yang imunisasi dasarnya baik dan sudah memiliki antibodi. Meski positif polio, imunisasi terbukti mampu memproteksinya.
“Meski positif polio, namun vaksin melindunginya sehingga virus tersebut tidak menimbulkan efek atau gejala apa pun,” ujarnya.
Sementara satu anak yang menderita polio dan lumpuh, kini sedang menjalani pengobatan dan terapi intensif.
“Anak itu ditangani dan kondisinya sekarang sudah bisa berjalan,” ujarnya
Reynold berharap para orang tua yang anaknya belum mendapatkan imunisasi polio lengkap dapat datang ke Puskesmas terdekat.
Vaksin yang akan diterima anak adalah Oral Drop Polio Vaccine (OPV). Imunisasi ini diberikan dengan cara meneteskan vaksin ke dalam mulut.
Dosis pertama umumnya diberikan pada usia yang sangat dini, seringkali segera setelah kelahiran, dengan dosis berikutnya mengikuti jadwal imunisasi nasional yang ditentukan.
Yang kedua adalah Vaksin Polio Suntik (IPV). Vaksin ini diberikan melalui suntikan ke otot atau kulit, disesuaikan dengan jenis vaksin dan pedoman nasional.
Vaksin ini diberikan oleh tenaga kesehatan terlatih, dengan dosis pertama diberikan kepada bayi berusia dua bulan, dan dosis berikutnya mengikuti rencana imunisasi nasional.
“Imunisasi OPV meliputi dosis pertama diberikan segera setelah lahir, dosis kedua pada usia 2 bulan, dosis ketiga pada usia 4 bulan, dan dosis keempat pada usia 18 bulan,” tutupnya. (Faris)