DKP Perkuat Ketahanan Pangan Lewat Program Family Farming di Mawokau Jaya
Papua60detik - Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Kabupaten Mimika kembali menghadirkan program family farming di Kampung Mawokau Jaya untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting.
Kepala Bidang Ketersediaan, Kerawanan, dan Stok Pangan DKP Mimika, Beti Iriani, menjelaskan family farming menggunakan dana Otsus dan sudah berjalan sejak 2024. Tahun ini menyasar 10 kampung yang memiliki anak-anak stunting.
Baca Juga: Pelemahan Rupiah Mulai Hantam Pelaku Usaha
Kampung tersebut adalah Kampung Mawokau Jaya, Karang Senang, SP3, Kampung Damai, Kampung Matoa, Wonosari Jaya, Sempan, Timika Indah, Kampung Poumako, dan Kampung Wania.
Dalam pelaksanaannya, DKP menyediakan berbagai bantuan berupa bibit tanaman pangan bergizi dan bibit ikan yang dapat dibudidayakan oleh masyarakat dengan memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing.
Bantuan yang diberikan meliputi bibit kelor, katuk, cabai, berbagai tanaman hortikultura, serta bibit ikan lele.
Beti Iriani menjelaskan, seluruh kebutuhan program telah disiapkan pemerintah, mulai dari bibit, media tanam hingga sarana pendukung lainnya.
"Masyarakat tinggal menyediakan lahan pekarangan sebagai lokasi budidaya. Semua bantuan kami siapkan agar masyarakat bisa langsung memanfaatkan pekarangan rumah mereka untuk menanam dan membudidayakan pangan bergizi," ujar Beti saat diwawancarai, Rabu (10/06/2026).
Menurutnya, hasil budidaya yang diperoleh keluarga penerima manfaat tidak hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga berpotensi meningkatkan pendapatan keluarga. Produk hasil panen nantinya dapat dipasarkan melalui Kios Tani yang dikelola oleh DKP Mimika.
Kepala Kampung Mawokau Jaya, Edyson Rafra, menilai Program Family Farming sejalan dengan upaya pemerintah kampung menekan angka stunting dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Di Kampung Mawokau Jaya sendiri terdapat delapan keluarga OAP yang akan menerima bantuan melalui program ini. Mereka merupakan keluarga yang memiliki anak stunting berdasarkan hasil pendataan dan verifikasi pemerintah.
Sesuai catatan Pemerintah Kampung Mawokau Jaya, angkat stunting mengalami penurunan signifikan. Pada tahun 2020 tmsebanyak 221 anak mengalami stunting. Angka tersebut berhasil ditekan hingga pada tahun 2025 tersisa sekitar tiga sampai lima anak yang stunting.
"Penanganan stunting membutuhkan keseriusan dan kerja bersama. Bukan hanya soal program, tetapi bagaimana pendampingan dan edukasi terus berjalan sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," terangnya.
Meski ada pengurangan, pemerintah kampung tetap mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap munculnya kasus baru, terutama pada keluarga muda hingga anak remaja yang belum aktif mengikuti kegiatan edukasi kesehatan dan gizi.
"Kita juga melaksanakan sosialisasi bagi kelompok-kelompok usia remaja serta pasangan usia muda. Sehingga ketika hamil kemudian melahirkan, anaknya tidak stunting lagi. Intinya kami melaksanakan apa yang menjadi tugas kami sebagai pemerintah di tingkat kampung," pungkasnya. (Martha)